Halaman

Salam silaturahmi Ikhwan dan Akhwat, selamat datang di blog ku
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Rabu, 08 Januari 2014

Asiah Binti Muzahim

Istiqomah sampai akhir hayat

Asiah adalah puteri seorang raja kerajaan Mesir kuno. Ia dibesarkan dalam lingkungan istana yang penuh kemegahaan. Ketika beranjak dewasa, ia dinikahkan dengan sepupunya yang kemudian menjadi raja bergekar Fir’aun. Raja fir’aun ini memerintah dengan tangan besi. Ia sangat sewenang – wenang dalam memerintah rakyatnya. Kemungkaran terbesarnya adalah memaksa semua orang untuk mengakui dirinya sebagai tuhan.



Asiah sendiri memiliki hati yang lurus, karena hidayah Allah selalu menyertainya. Maka, meskipun Fir’aun memerintah semua orang untuk menyembahnya, Asiah mampu menghindar dari perintah itu. Asiah pun seringkali menasehati Fir’aun untuk bertobat dan berbuat baik, tetapi Fir’aun menolak mentah – mentah. Bahkan kekejamannya semakin menjadi jadi semenjak ia bermimpi kekuasaannya akan dihancurkan seorang anak yang berasal dari kalangan Bani Israil.

Sejak mimpinya itu, Fir’aun menyuruh kepada semua pengawal istana untuk membunuh bayi laki laki yang lahir dari Bani israil. Dan Asiah pun berusaha menyadarkanFir’aun untuk menghentikan pembunuhan bayi – bayi itu, tetapi Fir’aun sudah buta mata hati, baginya kekuasaan adalah segala galanya. Asiah pun kesal pada suaminya ini.

Suatu hari, muncullah seorang bayi laki-laki disungai taman  tempat Asiah beristirahat. Hati Asiah langsung jatuh hati melihat bayi laki-laki yang kemudian diberinya nama Musa. Melihat Asiah sangat gembira dan sangat mencintai Musa, maka untuk mengambil hati Asiah, Fir’aun membolehkannya memelihara Musa.

Asiah selalu berusaha memenuhi kebutuhan bayi Musa. Untuk mencari ibu susu bagi Musa, Asiah mengumumkan ke seluruh negeri. Takdir Allah menentukan Musa bertemu kembali dengan ibundanya, Yukabid. Dari sekian banyak ibu susu yang datang kepada Asiah hanya kepada Yukabid saja Musa mau menyusu. Maka musa pun tumbuh dalam lingkungankasih saying ibunya dan Asiah.

Meskipun Musa dibesarkan dalam istana Fir’aun, budi pekertinya halus. Ia pun menyadari bahwa Fir’aun adalah raja yang kejam, terutama pada kaumya, bani israil. Setelah dewasa, Musa menunjukkan sikap bencinya pada kekejian Fir’aun.
   
Suatu ketika, satu kecelakaan menyebabkan Fir’aun memerintah untuk menangkap dan menghukum Musa, tetapi Musa berhasil melarikan diri. Dalam hal inipun Asiah berusaha membela Musa. Setelah meninggalkan Mesir dalam waktu yang lama, Musa yang telah menjadi Nabi, kembali ke Mesir dengan maksud mengajak Fir’aun untuk bertobat kepada Allah. Tetapi Fir’aun menolaknya mentah mentah.

Asiah yang memang dari semula berbudi pekerti lurus, langsung mengakui kerasulan Musa. Ia pun semakin mengokohkan keimannya denganmengikuti Musa membaca firman Allah yang berbunyi “ Rabb yang menguasai timur dan barat serta segala yang ada diantara keduanya, bila kamu mau memikirkannya.” ( QS. Asy Syua’araa ).

Mendengar perkataan Asiah, Fir’aun marah besar, ia memerintahkan pengawal istana untuk menyiksa Asiah supaya taat padanya. Segala upaya penyiksaan dari mulai yang ringan sampai terberat dilaksanakan, tetapi Asiah tak bergeming. Akhirnya Asiah syahid menemui sang Khalik saat mempertahankan keimanannya.

( Sumber majalah Ummi )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar