Halaman

Salam silaturahmi Ikhwan dan Akhwat, selamat datang di blog ku
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Senin, 31 Maret 2014

Duta Islam Yang Pertama Mush'ab Bin Umair

     Mush'ab bin Umair adalah salah satu sahabat nabi yang pernah lahir dan dibesarkan dalam kesenangan, dan tumbuh dalam lingkungan keluarga yang mewah. Mungkin tak seorangpun diantara anak anak muda Mekah yang beruntung dan dimanja oleh kedua orangtuanya seperti yang dialami Mush'ab bin Umair waktu itu.


     Karena kehidupannya serba berkecukupan, biasa hidup mewah dan dimanja, sehingga ia selalu menjadi buah bibir gadis gadis Mekah dan menjadi bintang ditempat kerumunan atau pertemuan. Namun setelah masuk Islam, kehidupannya menjadi sangat kontras, karena ia memilih sikap zuhud. Karenanya tidak tampak segala kemewahan hidup yang dulu pernah melekat pada dirinya.
     Suatu saat Mush'ab dipilih Rasulullah untuk melakukan suatu tugas yang sangat penting yaitu menjadi duta atau utusan Rasul ke Madinah, untuk mengajarkan seluk beluk Agama kepada orang orang Anshar yang telah beriman dan berbai'at kepada Rasullallah di bukit Aqabah. Disamping itu mengajak orang orang lain untuk menganut Agama Islam, serta mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut hijratur Rasul sebagai peristiwa besar.
     Sebenarnya dikalangan sahabat ketika itu masih banyak yang lebih tua, lebih berpengaruh dan lebih dekat hubungan kekeluargaannya dengan Rasullullah dari pada Mush'ab. Tetapi Rasullullah menjatuhkan pilihannya kepada Mush'ab.
     Mush'ab memikul amanat itu dengan bekal karunia Allah kepadanya, berupa fikiran yang cerdas dan budi pekerti yang luhur. Dengan sifat zuhud, kejujuran dan kesungguhan hati, diharapkan ia berhasil melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah hingga mereka berduyun duyun masuk Islam.
     Sesampainya di Madinah, didapatinya kaum muslimin di sana tidak lebih dari dua belas orang, yakni hanya orang orang yang telah berbai'at di bukit Aqabah. Di Madinah, Mush'ab tinggal sebagai tamu di rumah As'ad bin Zararah. Kemudian dengan didampingi As'ad, ia pergi mengunjungi kabilah kabilah, rumah rumah dan tempat tempat pertemuan, untuk membacakan ayat ayat suci Al Qur'an, menyampaikan kalimatullah bahwa tiada Ilah selain Allah.
     Pernah ia menghadapi beberapa peristiwa yang mengancam keselamatan diri serta sahabatnya, dia nyaris celaka kalau tidak karena kecerdasan akal dan kebesaran jiwanya. Suatu hari, ketika sedang memberikan petuahkepad orang orang, tiba tiba disegap Usaid bin Hudlair kepala suku kabilah Abdul Asyhal di Madinah. Usaid menodong Mush'ab dengan menyentakkan lembingnya dengan penuh amarah dan murka.
     Ia menganggap Mush'ab akan mengacau dan menyelewengkan anak buahnya dari agama mereka, serta mengemukakan Tuhan yang maha esa yang belum pernah mereka kenal dan kenal sebelumitu. Padahal menurut Usaid , tuhan tuhan mereka yang bersimpuh lena ditempatnya masing masing mudah dihubungi secara kongkrit, Jika seseorang memerlukan salahsatu diantaranya, tentulah ia akan mengetahui tempatnya dan segera pergi mengunjunginya untuk memaparkan kesulitan serta menyampaikan permohonan.
     Demikianlah yang tergambar dan terbayang dalam fikiran suku Abdul Asyhal pada umumnya. Sedangkan Tuhannya Muhammad SAW yang diserukan beribadah kepada-Nya oleh utusan yang datang kepada mereka itu, tiadalah yang mengetahui tempat-Nya dan tak seorangpun yang dapat melihat-Nya.
     Demi dilihat kedatangan Usaid bin Hudlair yang murka kepada orang orang Islam yang duduk bersama Mush'ab, merekapun merasa kecut dan takut. Tetapi Mush'ab tetap tinggal dengan air muka yang tidak berubah.
     Bagaikan singa yang hendak menerkan dengan emosi yang menyala nyala, Usaid berdiri di depan Mush'ab dan As'ad bin Zararah. bentaknya: "apa maksud kalian datangke kampung kami, apakah hendak membodohi rakyat kecil kami? tinggalkan segera tempat ini, jika tak ingin segera nyawa kalian melayang!"
     Seperti tenang dan mantapnya samudera yang dalam.. laksana terang dan damainya cahaya fajar... terpancarlah ketulusan hati Mush'ab, dan bergeraklah lidahnya mengeluarkan ucapan halus, katanya: "kenapa anda tidak duduk dan mendengarkan dulu..? seandainya menyukai... nanti anda dapat menerimanya.  Sebaliknya jika tidak, kami akan menghentikan apa yang tidak anda sukai itu..!".
     Sebenarnya Usaid seorang berakal dan berfikiran sehat. Dan sekarang ini ia diajak oleh Mush'ab untuk berbicara dan meminta pertimbangan kepada hati nuraninya sendiri. Yang dimintanya hanyalah agar ia bersedia mendengar dan bukan lainnya. Jika ia setuju ia akan membiarkan Mush'ab, dan jika tidak maka Mush'ab berjanji akan meninggalkan kampung dan masyarakat mereka untuk mencari tempat dan masyarakat lain, dengan tidak merugikan ataupun dirugikan orang lain.
     "Baiklah... sekarang saya insaf", ujar Usaid, lalu menjatuhkan lembingnya ke tanah dan duduk mendengarkan. Demi Mush'ab membacakan ayat ayat Al Qur'an dan menguraikan da'wah yang dibawa oleh Muhammad SAW bin Abdullah, maka dada Usaidpun mulai terbuka dan bercahaya, beralun irama mengikuti naik turunnya suara Mush'ab serta meresapi keindahannya. Belum lagi Mush'ab selesai dari uraiannya, Usaid pun berseru kepadanya dan kepada sahabatnya, "Alangkah indah dan benarnya ucapan itu...!, dan apakah yang harus dilakukan oleh orang yang hendak masuk Agama ini...? Maka sebagai jawabannya gemuruhlah suara tahlil, serempak seakan hendak menggoncangkan bumi. Kemudian ujarMush'ab : " hendaklah ia mensucikan diri. pakaian dan badannya, serta bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhaq diibadahi melainkan Allah.."
     Beberapa saat Usaid meninggalkan mereka kemudian kembali sambil memeras air dari rambutnya, lalu ia berdiri sambil meyatakan pengakuannya bahwa tiada Ilah yang berhaq diibadahi melainkan Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah..
     Berita keislaman Usaid tersebar dengan cepat. Kemudian keislaman Usaid disusul oleh Sa'ad bin 'Ubadah. Dan dengan keislaman mereka ini, berarti selesailah persoalan dengan berbagai suku yang ada di Madinah. Warga kota Madinah saling berdatangan dan bertanya tanya sesama mereka: "jika Usaid bin Hudlair, Sa'ad bin "Ubadah dan Sa'ad bin Mu'adz telah masuk islam, apalagi yang kita tunggu .. Ayolah kita pergi kepada Mush'ab dan beriman bersamanya!Kata orang, kebenaran itu datang dari celah celah giginya!"
     Demikianlah duta Rasullullah yang pertama telah mencapai hasil gemilang yang tiada taranya, suatu keberhasilan yang memang wajar dan layak diperolehnya berkat keluhuran budinya dan kepiawaiannya dalam berkomunikasi.
     Sehingga pada musim haji berikutnya dari perjanjian 'Aqabah, Kaum Muslmin Madinah mengirim perutusan yang mewakili mereka menemui nabi, Dan perutusan itu dipimpin oleh guru mereka, oleh duta yang dulu dikirim nabi kepada mereka yaitu Mush'ab bin Umair.
                                                                                               (sumber Alkautsar)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar