Sebelum Siti Hajar menikah dengan nabi ibrahim As,ia adalah khadimat pada keluarga nabi Ibrahim dan siti sarah. Melihat Siti Hajar memiliki prilaku dan budi perkerti yang luhur , Siti Sarah yang belum juga memiliki seorang anak , merelakan suaminya menikahi Siti Hajar. Pasca pernikahan ini, setelah menunggu berpuluh tahun, keinginan keluarga nabi Ibrahim untuk memiliki generasi penerus dikabulkan Allah SWT, dengan kelahiran Ismail dari rahim Siti Hajar. Tetapi, baru saja beberapa saat berbahagia sebagai ayah, datang perintah Allah pada Ibrahim untuk membawa Siti Hajar dan Ismail pergi meninggalkan Palestina.
Dibawah sinar matahari yang sangat terik, sampailah keluarga kecil itu di sebuah lembah yang tandus. Dengan menguatkan hati, nabi Ibrahim menurunkan istri dan anaknya dari kendaraan dan berjalan meninggalkan mereka. Melihat syami tercinta pergi tanpa mengajaknya, Siti Hajar bergegas menyusul.
"Wahai suamiku, akan kemana engkau pergi? mengapa tak mengajak kami serta?" rajuknya.
Nabi Ibrahim tak membuka suara dan tetap meneruskan langkahnya.
" Apa dosa kami? tegakah kau tinggalkan kami di tempat yang gersang dan tak berpenghuni?" suara Siti Hajar semakin menghiba.
Meski tak tega, Nabi Ibrahim menetapkan langkahnya. Melihat Siti Hajar terus mengejarnya, Nabi Ibrahim berhenti dan menjawab, "sesungguhnya semua yang kulakukan adalah perintah Allah."
Mendengar perkataan suami tercinta, Siti Hajar terdiam.
"Kalau begitu, pastilah Allah tidak akan menyia nyiakan kami." jawab Siti Hajar mantap. Sebelum nabi Ibrahim pergi, Siti Hajar memohon kepadanya untuk berdo'a demi keselamatan dirinya dan Ismail. Maka berdo'alah nabi Ibrahim :
"Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku dilembah yang tidak mempunyai tanam tanaman, didekat rumah Engkau, ya Rabb kami, teguhkanlah hati mereka dengan mendirikan shalat, jadikanlah hati manusia cenderung kepada mereka, dan berilah mereka rizki dari buah buahan, mudah mudahan mereka bersyukur."
Tetapi ujian dari Allah belumlah usai. Setelah bekal makanan dan minuman habis sedangkan air susunya pun kering, tangis keras si kecil Ismail yang kehausan dan kelaparan membuat Siti Hajar kebingungan. Ia berusaha keras mencari sumber air kesana kemari untuk menghilangkan dahaga buah hatinya.
Fatamorgana padang pasir membuatnya bolak balik antara Shofa dan Marwah sebanyak 7 kali, tetapi air tak ditemuinya.
Hatinya mulai kecut, telebih mendengar tangis Ismail yang semakin menjadi. Ketika hatinya sudah pasrah pada ketentuan Allah, sekonyong konyong memancarlah air dari sela sela jemari kaki anaknya. Siti Hajar segera berlari menuju Ismail. Akhirnya Siti Hajar dan Ismail bisa menghilangkan dahaga dan mampu bertahan hidup. Dan lama kelamaan daerah itu menjadi ramai dikunjungi berbagai suku dan berkembang menjadi kota Mekah.
Sejarah juga mencatat kesabaran Siti Hajar ketika harus merelakan Ismail menjadi korban dengan cara disembelih ayahnya sendiri. Meski sempat tak rela, keimanannya yang tinggi pada Allah semakin terlihat ketika ia yakin bahwa itu adalah ketentuan terbaik dari-Nya. Kesabarannya pun berbuah kebaikan, wahyu Allah yang turun berikutnya memerintahkan untuk mengganti Ismail dengan domba. Maka selamatlah Ismail dari kematian, dan keluarga yang taat dan penuh kesabaran itupun hidup bahagia sampai akhir hayatnya. Bahkan dari garis keturunan Ismail, bermunculanlah generasi generasi terbaik umat manusia.
(sumber majalah ummi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar